Saturday, January 29, 2011

Al-Habib Ali bin Muhammad bin Hussain Al-Habsyi (Muallif Simtud Durar)

Penyusun Simtud Durar terkenal, Habib Ali bin Muhammad bin Hussain Al-Habsyi dilahirkan pada hari Jum'at 24 Syawal 1259 H di Qasam, sebuah kota di negeri Hadhramaut. Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya, Al-Imam Al-Arif Billah Muhammad bin Husin bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya; As-Syarifah Alawiyyah binti Hussain bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang sholihah yang amat bijaksana. Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Quran dan berhasil menguasai ilmu-ilmu zhahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, Beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian dihadapan khalayak ramai, sehingga dengan cepat sekali, Beliau menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepemimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu. Selanjutnya, Beliau melaksanakan tugas- tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, disamping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
Untuk menampung mereka, dibangunnya Masjid "Riyadh" di kota Seiwun (Hadhramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi keperluan mereka, termasuk soal makan-minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tenteram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari. Bimbingan dan asuhan Beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali di antara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan sahaja di daerah Hadhramaut, tetapi tersebar luas di beberapa negeri lainnya - di Afrika dan Asia, termasuk di Indonesia. Di tempat-tempat itu, mereka mendirikan pusat-pusat dakwah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan di banyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali. Di antara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bungsu; Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri Masjid "Riyadh" di kota Solo (Surakarta).

Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi
 
Dia dikenal sebagai peribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan-santun, serta ramah-tamah terhadap siapa-pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau (Habib Alwi) meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabiul Awal 1373 H dan dimakamkan di kota Surakarta. Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, di samping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya. Dan di antara karangan Beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan di mana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah kecil ini yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dan diberinya judul "Simtud Duror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya)." Habib Ali Al-Habsyi meninggal dunia di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabiul Akhir 1333 H dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari Beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita Beliau dalam berdakwah dan menyiarkan agama.

Simtud Durar

Habib Anis Al-Habsyi


Dipetik dari: Untaian Mutiara - Terjemahan Simtud Duror oleh Habib Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi.

SETETES KALAM MUTIARA ALHABIB ALI ALHABSYI
Almukarram Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi memiliki kepedulian tinggi dan amat bangga terhadap para penuntut ilmu. Sehingga semasa hidupnya, tidak jarang Beliau menyempatkan diri duduk di serambi rumahnya untuk menyaksikan para pelajar yang berlalu-lalang di depan kediamannya, berangkat menuju ke tempat mereka menuntut ilmu...
Dalam kumpulan kalam Beliau yang disusun oleh Habib Umar bin Muhammad Maulakhela, "Jawahirul Anfas fii Maa Yurdhi Robban Naas", disebutkan, Beliau RA pernah berkata :
- "Aku doakan agar kalian berumur panjang dan memperoleh fath. Ketahuilah setiap orang yang mengajar sesuai dengan ilmu yang dimiliki, kelak di hari kiamat akan mendapatkan syafa'at Rasulullah SAW."
- "Jika aku bertemu pelajar yang membawa bukunya, ingin aku mencium kedua matanya."
- "Ketahuilah, hari ini (Ahad, 11 syawal 1322 H), aku mengundang kalian untuk membangkitkan semangat kalian menuntut ilmu. Giatlah belajar, semoga Allah memberkahi kalian."
- "Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu. Perhatikan para salaf kalian, mereka menghafal berbagai matan (naskah). Mereka telah hafal kitab AzZubad, Mulhah I'rob dan Alfiyah dimasa kecilnya. Setelah dewasa ada yang telah hafal kitab AlMinhaj, Ihya' Ulumiddin, dll."
- "Aku ingin setiap pelajar membawa alat-alat tulisnya ketika mengikuti pelajaran.
Ketahuilah, keuntungan (faedah) ilmu
terletak pada pengamalan dan pencatatannya. Sebaliknya, menjadi aib bagi seorang pelajar jika saat mengikuti pelajaran (menuntut ilmu) ia tidak membawa buku dan peralatan tulis lainnya."
- "Pelajarilah cara membunuh/mengendalikan hawa nafsu, adab dan tata krama. Tuntutlah ilmu baik dari orang dewasa maupun anak-anak. Jika
yang mengajarkan ilmu jauh lebih muda darimu janganlah berkata, "Kami tidak mau belajar kepadanya, aib bagi kami."
- "Pelajarilah pelajaran yang hendak kalian bacakan di hadapan Guru. Dengan demikian kalian akan memetik manfaatnya. Tauladani apa yang telah dilakukan oleh kebanyakkan salaf kita, saat menuntut ilmu."
- "Ketika aku masih menuntut ilmu di Mekkah. Setiap malam aku bersama kakakku Hussein dan Alwi Assegaf mempelajari 12 kitab Syarah dari Al-Mihaj, lalu menghafalkan semuanya. Pernah pada suatu hari saat nishful layl (akhir malam) ayahku Al-Habib Muhammad keluar dari kamarnya dan mendapati kami sedang belajar. Beliau berkata, "Wahai anak-anakku kalian masih belajar? Semoga Allah SWT memberkati kalian."
- "Tidak ada yang lebih menggembirakan hati Rasulullah SAW dari melihat upaya umat Beliau menuntut ilmu, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya, dan menyebarkannya kepada saudaranya. Adakah yang lebih berharga dibandingkan kebahagiaan Habibi Muhammad SAW itu? Dunia dan akhirat beserta segenap isinya tak mampu menyamai kebahagiaan Beliau SAW."
- "Wahai anak-anakku sekalian, jika kalian mau berusaha dengan sungguh-sungguh, maka bagimu kesempatan masih amat terbuka. Tauladani amal para salaf. Janganlah kalian menganggap mustahil mujahadah yang telah dilakukan orang-orang terdahulu, sebab mereka diberi kekuatan dhohir- bathin oleh Allah SWT."
- "Mereka juga mempunyai niat dan tekad yang kuat untuk mencontoh para pendahulunya dalam berilmu dan beramal. Ketahuilah tidak ada yang menyebabkan manusia rugi, kecuali keengganan mereka mengkaji buku-buku sejarah kehidupan kaum sholihin. Jika riwayat hidup mereka dibacakan kepada orang mukmin, iman mereka akan semakin teguh kepada Allah SWT..".

No comments:

Post a Comment