Saturday, August 11, 2012

Ngabuburit, memancing..

Hari yg cerah, meski tidak secerah hari ini (sabtu), setelah shalat jumat yang kupikirkan cuma ingin pulang ke rumah, kulihat orang-orang banyak yang ke belakang masjid jami, diantaranya beberapa orang temanku. Penasaran, ku ikuti mereka, ternyata mereka ingin mengambil sarang lebah untuk digunakan sebagai umpan memancing untuk nanti sore, aku-pun merasa tertarik ingin ikut pergi juga, apalagi salah satu temanku sore nanti juga akan berangkat.


"Kapan pergi mancingnya Akhi?," tanyaku kepadanya.

"Sore ini, setelah ashar, kalau siang-siang begini tidak pas (cocok), panas," jawabnya.

"Dimana mancingnya?", tanyaku lagi.

"Dikebun Alm. Tuan Guru, handil 7 bawah," ujarnya.

"Ooo,"

Aku akan ke sana, insya Allah, pikirku, kerna aku ingin tahu juga letak kebun Tuan Guru itu.
Adzan ashar-pun terdengar dari masjid-masjid di kampungku. Segera ku ambil air wudhu untuk shalat. Setelah wirid-an & doa, bergegas ku berganti pakaian (celana panjang dengan atasan baju kaos putih lengan panjang), kemudian meluncurlah aku ke lokasi.
Kerna aku tak tahu yang mana kebun Alm. Tuan Guru, aku teruskan saja vario-ku melaju masuk ke dalam jalan itu (handil 7 bawah), sambil melihat kanan-kiri jalan yang aku lalui. Alhamdulillah setelah beberapa puluh meter (mungkin lebih dari 100 meter dr jalan raya) aku bertemu dengan temanku, Imis. Disambut seulas senyum darinya.

"Sudah ada dapat?," tanyaku senang.

"Dapat satu, ikan haruan (gabus)," jawabnya.

Tak berselang lama, seekor ikan menyambar lagi & berhasil ditariknya ke darat, ternyata seekor ikan haruan lagi, mungkin panjangnya kurang dari 15 cm, diameter 2,5 cm, sama seperti yang terdahulu. Kecil memang, tapi kesenangan yang di dapat tak ternilai.

"Kamu mau mancing juga kah?," sambil berjalan berniat mengambilkan joran pancing diantara sela-sela pohon pisang.

"Tidak," jawabku. Memang tujuanku ke sana sebenarnya hanya ingin mengetahui dimana kebun Alm. Tuan Guru & sekalian menunggu berbuka.

Suasana yang berbeda kerna hamparan tanaman disekitarnya, terasa sepi kerna jauh dari keramaian namun damai. Kucoba berjalan lebih ke dalam, mengikuti jalan setapak yang aku tak tahu ujungnya, barisan pohon pisang di sisi kanan jalan & ada sebuah pondok (kata temanku ini adalah pondok Beliau, tempat melepas lelah), disebelah kiri kebun Beliau ada hamparan perkebunan orang lain yang dipisahkan oleh parit yang kira-kira lebarnya 2 meteran, diparit inilah ikan-ikan pada berkeliaran. Di atas permukaan airnya mengapung daun-daun bunga teratai, sayang belum berkembang.

"Ikan sepat (sejenis mujair) tidak ada y? Padahal aku suka dengan ikan itu, kalau ikan haruan ini aku & keluarga tidak begitu suka, tidak tahu nanti ikan-ikan ini mau di-apakan." ucap temanku.

Tak berapa lama datang dua orang yang kami kenal, ya, itu adalah Pak Anto & menantunya, ternyata mereka juga biasa memancing disini. Temanku selalu berpindah-pindah mencari tempat yang dirasanya ada ikan-ikan berkumpul. Kami menuju kebun seberang, ternyata disana kami bertemu dengan beberapa orang pemancing. Tak terasa masa berbuka hampir dekat, hari sudah mulai gelap, satu persatu pemancing pulang ke rumah, tinggal kami berdua.
Sang mentari sore terlihat indah dari sini, warna kuning kemerahannya tak menyilaukan mata. Awan-awan putih bersusun takjub, suasana terasa lebih sunyi...
Kami-pun berkemas untuk pulang, kerna senja hendak datang...
Buatku, ini (ngabuburit mancing) lebih baik daripada diluar sana yang menikmati keramaian. Disini, Insya Allah tak ada yang hal haram yang terpandangi..

و الله أعلم
Ramadhan, 21, 1433 H, Jumat.. 10 Agustus 2012.





No comments:

Post a Comment